Situs resmi Perkumpulan ISKCON di Indonesia
Bagian Dua: Misi ISKCON

Perkumpulan ISKCON di Indonesia

Image
Cover - iskcon.id

Ketika A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada (1896–1977), pendiri dan Acarya (guru spiritual) ISKCON, awalnya mendaftarkan ISKCON sebagai sebuah badan hukum di New York pada tahun 1966, beliau menyatakan bahwa tujuan utama perkumpulan ini adalah: ‘Secara sistematis menyebarluaskan pengetahuan spiritual kepada masyarakat luas dan mendidik semua orang dalam suatu cara kehidupan spiritual dalam upaya memperbaiki ketidakseimbangan nilai-nilai kehidupan dan mencapai persatuan yang sejati dan perdamaian di dunia.’ 1

Selaras dengan tujuan tersebut, anggota perkumpulan Hare Krsna,

  • menghargai perbuatan kedermawanan, nirkekerasan, pendidikan spiritual, pemikiran dan tindakan yang berlandaskan moral, kebaktian, dan pelayanan kepada Tuhan.
  • menghargai sifat-sifat seperti kerendahan hati, toleransi, welas asih, kebersihan, pengendalian diri, kesederhanaan, keteguhan, pengetahuan, kejujuran, dan integritas pribadi
  • menghargai dan menghormati hak hidup semua makhluk hidup lainnya, baik manusia, binatang, binatang air, ataupun tumbuhtumbuhan. Kami menghargai lingkungan dan sumber daya alam dengan memandangnya sebagai milik Tuhan, dan kita bertanggungjawab untuk menghormati dan melindunginya.
  • mengakui keberadaan keluarga sebagai unsur penting dalam memelihara stabilitas sosial dan dalam memperkenalkan nilainilai spiritual.

Kami memandang bahwa sikap hormat terhadap orangtua, guru, dan wakil pemerintah adalah hal yang penting untuk memelihara stabilitas masyarakat. Sikap hormat dan perlindungan terhadap kaum manula, wanita, anak-anak, dan makhluk-makhluk hidup yang lemah dan mengantungkan diri kepada manusia, serta orang-orang yang mengabdikan diri untuk kebaikan orang lain dan untuk pelayanan kepada Tuhan, adalah juga unsur-unsur penting dalam perkembangan sebuah masyarakat yang sehat dan aman.

Kami memahami pula bahwa ada banyak orang yang terinspirasi di bidang spiritual, altruistik, dan kemanusiaan yang berpegang pula pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang sama tersebut. Kami menghormati dan menghargai tradisi atau budaya mana pun yang berusaha untuk memperkenalkan, memelihara dan mengembangkan sifat-sifat dan perilaku yang demikian.

Bhaktivinoda Thakura (1838–1914), seorang Acarya Vaisnava yang sangat dihormati, menjelaskan bahwa yang merupakan lawan bukanlah agama lain, melainkan ateisme. (Sri CaitanyaSiksamrtam, hal. 9) Misi Srila Prabhupada dan sampradaya (tradisi keagamaan) yang diwakilinya ini mendorong moralitas dan praktik-praktik yang mendukung perkembangan spiritualitas individu maupun sosial, sambil pada saat yang sama menyoroti prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang ateistik dan materialistik.

ISKCON: Dialog dan Misi

Sejumlah orang mungkin merasa bahwa, bagi sebuah perkumpulan yang berpegang pada sebuah misi, dialog dengan mereka yang tidak berpandangan spiritual atau keagamaan yang sama adalah hal yang bertentangan dengan tujuan. Akan tetapi, ajaran-ajaran Gaudiya Vaisnava mendukung dilakukannya dialog dan kerjasama dengan tradisi keagamaan lain sebagai sebuah sarana untuk saling memperkaya pemahaman, melalui penemuan nilai-nilai yang unik dan universal di dalam berbagai tradisi teistik dan moralitas.

Dapatkah sebuah perkumpulan yang berpegang pada sebuah misi melakukan dialog dengan agama lain?

Secara historis, anggota tradisi kami telah menjalin komunikasi dengan anggota komunitas keyakinan lain sejak setidaknya masa Caitanya Mahaprabhu (1486–1534), walau upayaupaya sistematis untuk melakukan dialog dengan keyakinan-keyakinan lain baru diawali oleh Bhaktivinoda Thakura.

Hubungan saling percaya dapat berkembang dari dialog yang tulus dan apa adanya dengan berbagai penganut keyakinan. Hubungan tersebut dapat mendorong umat beragama dari segala tradisi untuk bekerjasama menegakkan kesimpulan-kesimpulan teistik yang akan mengantarkan pada semangat kesadaran Tuhan di dunia modern kita ini. Dengan demikian, dialog dan hubungan kerjasama yang saling menghormati dengan komunitas keyakinan lain adalah hal yang sejalan dengan misi ISKCON dan penting bagi tercapainya keharmonisan sosial.

Pada tahun 1950an, Srila Prabhupada membenarkan cara pendekatan ini dalam sebuah permohonan yang beliau sampaikan kepada para pemimpin agama-agama dunia: ‘Umat Hindu, Muslim, Kristen, dan umat agama lain yang memiliki keyakinan kuat terhadap kekuasaan Tuhan tidak boleh duduk diam berpangku tangan melihat pesatnya pertumbuhan peradaban yang tidak berketuhanan ini. Ada kehendak tertinggi Tuhan, dan tidak ada masyarakat atau bangsa yang bisa hidup damai dan sejahtera tanpa mengakui kebenaran penting ini.’ (Cahaya Bhagavata, hal. 20)

Walaupun kami menjunjung tinggi budaya spiritual kami sendiri dan berusaha untuk membangun keyakinan kami terhadap Krsna di Vrndavana, kami memandang bahwa tidaklah pantas bagi seorang Vaisnava untuk berusaha menarik perhatian orang menuju pemujaan kepada Tuhan dengan cara menjelekkan, menyajikan secara keliru, atau merendahkan anggota komunitas keyakinan lain. Terkait hal ini, Bhaktivinoda Thakura menulis: ‘Tetapi, tidak sepantasnya seseorang terus-menerus mengemukakan tentang superioritas pengajar-pengajar dari negerinya sendiri, membandingkannya dengan pengajar-pengajar dari negeri lain. Walau memang, seseorang hendaknya menjunjung tinggi keyakinannya tersebut agar ia mencapai kemantapan terhadap keyakinannya sendiri. Tetapi, pertengkaran-pertengkaran semacam itu tidak memberikan kebaikan apa pun bagi dunia.’ (Sri-Caitanya-Siksamritam, hal. 7)

Srila Prabhupada membahas juga hal ini di dalam penjelasanpenjelasan beliau dalam Srimad-Bhagavatam: ‘Poin penting lainnya yang disebutkan terkait hal ini adalah anindaya [menghindari perbuatan menghina] — kita hendaknya tidak mengkritik metode keagamaan orang lain... Seorang penyembah tidak akan mengkritik cara tersebut, melainkan ia akan mendorong pengikut tradisi tersebut untuk setia memegang prinsip-prinsip mereka.’ (Srimad-Bhagavatam 4.22.24, penjelasan)

Para Vaisnava berusaha untuk mendorong dan meningkatkan jalinan hubungan antara Tuhan dan para penyembah-Nya. Dalam upaya untuk melakukan hal tersebut, para penyembah berhadapan dengan orang lain yang memiliki cara pendekatan yang berbeda terhadap Tuhan dalam hal jenis pemujaan, keanekaragaman cara pelayanan, dan ekspresi cinta. Dalam sebuah ceramah di depan publik pada tahun 1969, Srila Prabhupada menyatakan, ‘Semua orang hendaknya mengikuti tradisi atau sampradaya tertentu, yakni prinsip-prinsip aturan agama Anda sendiri. Hal ini perlu adanya, sebagaimana halnya ada partai-partai politik yang berbeda-beda walaupun semuanya dimaksudkan untuk melayani satu negara yang sama’. Dengan demikian, keanekaragaman diakui, tetapi tidak dengan mengesampingkan kesatuan. Agama-agama tidak harus menjadi homogen atau dijadikan satu, melainkan mereka dapat mengembangkan hubungan yang saling menghormati dan nyata satu sama lain. Dengan pemahaman seperti ini, ISKCON tidak punya misi untuk mengubah keyakinan orang lain.

Menerima dengan tangan terbuka jiwa-jiwa tulus yang memperlihatkan keinginan mereka untuk mendapatkan naungan dan bimbingan spiritual, inilah yang menjadi misi ISKCON. Semangat misionaris tentu ada di dalam Vaisnavaisme dan Hinduisme, tetapi pelaksanaannya diatur bukan dengan model konversi yang eksklusif. Dari perspektif Gaudiya Vaisnava, yang disasar bukanlah ‘konversi’ melainkan perkembangan spiritual. Maka ‘konversi’ akan menjadi sebuah pengalaman individual, atau perjalanan spiritual seseorang, yakni perjalanan yang melampaui institusi keagamaan dan afiliasi sektarian. Modelmodel konversi yang bergantung pada tuntutan afiliasi eksklusif seringkali melakukan upaya konversi tanpa mempertimbangkan kemahakuasaan dan independensi Tuhan.

Melalui dialog, orang-orang dari latar belakang tradisi dan keyakinan yang berbeda-beda dapat bekerjasama dan berbagi prinsip-prinsip dan wilayah-wilayah yang menjadi perhatian mereka. Mereka kemudian dapat bersama-sama mengarahkan spiritualitas individu mereka untuk menyoroti masalah-masalah seperti perang, kekerasan, kemerosotan moral, kejahatan, penyalahgunaan narkotika, kemiskinan dan kelaparan, ketidakstabilan sosial, dan kemerosotan lingkungan.

Melalui dialog, kaum teistik dan mereka yang tekun dalam pencarian terhadap Kebenaran Mutlak dapat saling mendorong satu sama lain untuk lebih khusyuk dalam praktik mereka masing-masing. Banyak tradisi telah menetapkan bentuk-bentuk disiplin seperti pengendalian diri, pengorbanan, pertapaan dan kedermawanan untuk membantu tercapainya pencerahan spiritual, tetapi kita semua membutuhkan dorongan semangat dan inspirasi dalam upaya yang sedang kita jalani.

Untuk memenuhi permintaan guru-guru spiritual kita dan untuk memberikan teladan bagi masyarakat, kita perlu saling mendorong satu sama lain agar setia pada prinsip-prinsip tradisi kita masing-masing. 3

Dialog dapat menjadi tantangan bagi keyakinan umat dari setiap tradisi. Tantangan seperti ini adalah hal yang diperlukan dan disambut keberadaannya di dunia yang multi-keyakinan ini. Dialog tersebut dapat membantu untuk memperkuat keyakinan dan karakter masing-masing individu, memperkuat integritas dan visi masing-masing institusi, dan memperkuat dukungan dan apresiasi dari mereka yang mengharapkan adanya kepemimpinan spiritual yang mengantarkan pada pencerahan. Demikianlah dialog dapat mengantarkan pada keinsafan yang mendalam terhadap misi, dalam makna terluasnya.

Kaum teistik dapat saling mendorong satu sama lain untuk lebih khusyuk dalam praktik mereka masingmasing.

Navigasi buku

Share This:
Logo Perkumpulan ISKCON Indonesia

Ucapkan

Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare

Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare

Niscaya Anda Bahagia!

iskcon.org | gbc.iskcon.org | news.iskcon.org | communications.iskcon.org


Perkumpulan International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) di Indonesia 
Acarya-Pendiri His Divine Grace A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada


Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI: AHU-0001067.AH.01.08.2019 | NPWP: 74.572.204.1-903.000
Kementerian Agama RI: 1230/DJ.VI/BA.00/07/2019 | Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat: 413/Parisada P/IV/2016
Members of ISKCON Governing Body Commission (GBC) are listed as Extraordinary Members of the Association