Situs resmi Perkumpulan ISKCON di Indonesia
Bagian Lima: Tanggapan

Perkumpulan ISKCON di Indonesia

Image
Cover - iskcon.id

Pernyataan Dialog Antar Agama ISKCON adalah sesuatu yang masih terus didiskusikan dan terbuka untuk menerima tanggapan. Sebagaimana yang disebutkan oleh Michael Ipgrave, Adviser on Interfaith Relations to the Archbishops Council (Church of England), di dalam tanggapannya, bahwa pernyataan ini ‘memiliki potensi untuk berfungsi sebagai pedoman hidup’. Walaupun sebagian besar tanggapan yang diterima memberikan analisis yang positif, seringkali juga bersifat terus terang perihal kelemahan-kelemahan pernyataan ini dan ini tentu saja merupakan bagian dari dialog juga.

Buletin kecil ini hanya dapat memuat beberapa di antara tema utama yang berkembang di dalam tanggapan-tanggapan tersebut. Tanggapan-tanggapan yang selengkapnya dapat ditemukan di www.iskcon.com/icj/ responses.htm.

Satu reaksi alamiah saat mencermati pergulatan tradisi keyakinan lain perihal topik penting ini adalah bahwa kita akan mencermati cara pendekatan yang dilakukan oleh keyakinan kita sendiri. Monsignor Machado, sekretaris perwakilan Pontifical Council for Interreligious Dialogue dan seorang cendekiawan dalam tradisi bhakti (ISKCON termasuk di dalamnya), mendapat banyak masukan dari dokumen-dokumen Vatikan, termasuk dokumen Nostra Aetate. Beliau memberikan ulasan yang cermat untuk tiap-tiap poin pernyataan, sambil pada saat yang sama menguraikan pemahaman Gereja Katolik tentang dialog antar agama. Di sana beliau mengingatkan pembaca bahwa, ‘dialog dimulai, bertumbuh secara autentik dan membuahkan hasil, walau dihadapkan pada kesulitan-kesulitan, jika ia berdiri di atas landasan saling percaya yang kuat di antara para pihak’.

Sifat pribadi dialog antar agama mengisi sebagian besar pernyataan aslinya dan tanggapan-tanggapan lanjutannya. Brian Pearce, Director of the UK’s Interfaith Network, mengingatkan kita bahwa ‘dalam dialog kita berjumpa dengan orang-orang — dan orang-orang datang dari bagian tertentu tradisi mereka dan mengungkapkan pengalaman pribadi mereka tentang tradisi mereka. Kita berdialog bukan dengan konsep-konsep.’ Atau, sebagaimana yang dikemukakan oleh John Borelli, US National Conference of Catholic Bishops, ‘Yang berdialog bukanlah agama, melainkan orang.

Dalam pernyataan dialog antar agama ISKCON, telah banyak dimuat tentang perlunya sikap menghormati. Hal ini mendapat sejumlah tanggapan yang menarik. Gavin D’Costa, Department of Theology at the University of Bristol (UK), menanyakan bagaimana mungkin ISKCON menghargai komunitas dan organisasi non-teistik yang mendorong standar-standar kemanusiaan dan moralitas sementara Vaisnavaisme mengajarkan bahwa ‘kesadaran Tuhan adalah prasyarat yang benar bagi etika dan perbuatan yang benar.’ Ia mengatakan bahwa ‘dokumen ini nampaknya menjungkirbalikkan unsur tradisi Vaisnavaisme tersebut, dan hal ini memerlukan dasar kebenaran yang lebih cermat lagi daripada yang telah disediakan.’

Hans Ucko, World Council of Churches, menyoroti tentang kekhawatiran umum bahwa dialog antar agama adalah sebuah upaya untuk membangun sebuah ‘agama-super cinta-universal, persaudaraan global dan kesadaran kosmis yang dirancang untuk abad ke-21, ... serupa dengan campuran es krim dan jeli: mudah dicerna, tetapi tanpa substansi.’ Tantangan terbesar bagi cara pandang seperti itu adalah untuk mendefinisikan landasan teologis bagi dialog antar agama. Landasan teologis ini mengundang beberapa di antara tanggapan terpenting.

Michael Ipgrave menggambarkan bahwa pernyataan ini memberikan dasar bagi “perbuatan yang benar di tengah keortodokan, keyakinan yang benar’. Dalam tanggapannya, Felix Machado memberikan landasan teologis Kristen untuk melakukan dialog, sebagai perbandingan, dengan mengutip pernyataan Paus saat ini: ‘saat kita membuka diri dalam dialog dengan satu sama lain, kita membuka diri juga kepada Tuhan.’ Gavin D’Costa memandang landasan teologis pernyataan ini sebagai ‘bagian terpenting yang dapat digunakan untuk menilai keselarasan dan integritas keseluruhan dokumen’ dan ia menggunakan sebuah pendekatan intra-sistematik untuk menganalisis dokumen ini dengan menggunakan logika internal yang ada di dalamnya.

Pernyataan ISKCON menyebutkan bahwa ‘tidak ada satu agama pun yang memegang monopoli atas kebenaran’. Teolog Kristen Protestan dari Jerman, Ulrich Dehn, meyakini bahwa ini adalah ‘sebuah pemahaman yang cocok dituliskan dalam buku harian sejumlah umat Kristen.’ Akan tetapi, bercermin pada kejadiankejadian tidak mengenakkan yang dialaminya sebelumnya, ia menantang ISKCON untuk menyelaraskan teori pernyataan dialog antara agamanya tersebut dengan praktik yang nyata dijalani ISKCON.

Gavin D’Costa menemukan bahwa pembedaan yang dilakukan oleh para Vaisnava antara “cinta kasih yang murni kepada Tuhan dengan apa yang umumnya dipahami sebagai agama”, ‘memungkinkan bagi terciptanya kesatuan yang fundamental bagi orang-orang yang menganut kebaktian terhadap kepribadian tertentu, baik mereka penganut Kristen, Yahudi, Hindu ataupun Muslim.’

‘Saat kita membuka diri dalam dialog dengan satu sama lain, kita membuka diri juga kepada Tuhan.’

Pendeta Anglikan dan Joint-President of the World Congress of Faiths, Marcus Braybrooke, menaruh minat terhadap tiga tingkatan penyembah yang diuraikan di dalam pernyataan ini: (1) penyembah yang belum matang yang mengekspresikan ‘fanatisme dan eksklusivisme’; (2) penyembah yang telah matang, yang ‘mengenali penyembah lain dari kualitas kehidupan mereka’ bukannya dari afiliasi keagamaan mereka; dan (3) penyembah yang telah maju yang memandang bahwa semua orang adalah pelayan-pelayan Tuhan. Yang menarik adalah, ia memberi catatan bahwa ‘walaupun sejumlah pemimpin besar keagamaan mengakui tentang tingkatan maju (tingkatan yang ketiga) ini, agama-agama — dan sesungguhnya banyak organisasi dialog antar agama — berjalan pada tingkatan kedua.’ Ia menambahkan: ‘Kebanyakan dari kita memerlukan komunitas keyakinan tempat kita menerima dukungan dan tempat kita memberi kontribusi. Namun kita perlu diusik juga oleh para penyembah yang telah maju itu yang mengingatkan kepada kita bahwa Tuhan bebas untuk menjalin hubungan cinta kasih dengan siapa pun sesuai kehendak-Nya.’

Satu poin yang potensial menjadi sorotan dalam dialog antar agama adalah wacana tentang konversi. Terkait hal ini, Rabbi Jacqueline Tabick menyebutkan bahwa ‘aktivitas perkumpulan Hare Krishna pada masa-masa awal telah menimbulkan kecurigaan yang cukup besar dalam komunitas Yahudi.’ Ia menambahkan ‘Dialog yang sesungguhnya hanya dapat berlangsung di antara mereka yang tidak memiliki agenda untuk melakukan konversi, dan di antara mereka yang telah merasa aman dengan keyakinan mereka sendiri.’

“Tuhan bebas untuk menjalin hubungan cinta kasih dengan siapa pun sesuai kehendak-Nya”

Alan Unterman, dari sudut pandang seorang Yahudi ortodok, mengemukakan tantangan yang tegas kepada ISKCON terkait hal ini. Ia menguraikan tentang adanya kontradiksi di dalam pernyataan dialog antar agama ISKCON yakni antara ‘serangkaian pernyataan yang mengisyaratkan tentang pandangan negatif terhadap aktivitas misionaris, dengan Tujuh Tujuan ISKCON. Ia meyakini bahwa Tujuh Tujuan ISKCON ini ‘menjadikan misi dan konversi sebagai sebuah aspek utama dari cara pandang ISKCON.’ Secara singkat, ia menemukan bahwa ‘dokumen ISKCON tersebut dapat dianggap mengekspresikan sebuah kedudukan yang tipikal sektarian.’

Telah disebutkan di atas bahwa pernyataan dialog antar agama ISKCON ini bukanlah kata akhir dalam proses dialog; Cracknell mengingatkan kita, setelah memetakan historis upaya ISKCON dalam dialog antar agama, bahwa ini juga bukanlah pernyataan pertama ISKCON, dan ia menemukan bahwa petunjuk-petunjuk di dalam pernyataan ini ‘mencerminkan upaya tulus dan penuh semangat ISKCON dalam lapangan ini’. Ia menelaah cakupan yang mungkin dijangkau bagi dialog antara Vaishnava dengan Kristen, baik pada level teologis maupun berdasarkan pengalaman pribadi yang mendalam. ‘Mungkinkah,’ ia bertanya, ‘bahwa rekan terbaik kita dalam dialog Kristen-Hindu adalah mereka yang berasal dari tradisi-tradisi bhakti? Tidak dapatkah kami, dari sudut pandang Kristen kami, menganggap bahwa adalah merupakan sebuah takdir di mana Srila Prabhupada telah dengan begitu briliannya mengajarkan kepada orang-orang Barat? Tidak dapatkah kita mengatakan bahwa, melalui ajaran tokoh ini, Tuhan telah membangkitkan sebuah generasi baru penafsirpenafsir jalan pengabdian suci bhakti? Bahkan, mungkinkah ini akan menjadi titik balik dalam sejarah panjang percaturan hubungan Kristen-Hindu?’

Navigasi buku

Share This:
Logo Perkumpulan ISKCON Indonesia

Ucapkan

Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare

Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare

Niscaya Anda Bahagia!

iskcon.org | gbc.iskcon.org | news.iskcon.org | communications.iskcon.org


Perkumpulan International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) di Indonesia 
Acarya-Pendiri His Divine Grace A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada


Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI: AHU-0001067.AH.01.08.2019 | NPWP: 74.572.204.1-903.000
Kementerian Agama RI: 1230/DJ.VI/BA.00/07/2019 | Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat: 413/Parisada P/IV/2016
Members of ISKCON Governing Body Commission (GBC) are listed as Extraordinary Members of the Association