Situs resmi Perkumpulan ISKCON di Indonesia
Bagian Tiga: ISKCON - Dasar Teologis untuk Melakukan Dialog Teologi Vaisnava dan Konsep Tentang Agama

Perkumpulan ISKCON di Indonesia

Image
Cover - iskcon.id

Serupa dengan banyak pengikut tradisi Vedanta, para penyembah Krsna membedakan antara kesadaran Krsna, atau cinta murni kepada Tuhan4 (sanatana-dharma), dengan apa yang umumnya dipahami sebagai agama (dharma). Dalam kata pengantar Bhagavad-gita karya beliau, Srila Prabhupada menjelaskan:

Yang dimaksud sanatana-dharma bukanlah proses keagamaan sektarian manapun. Sanatana-dharma adalah fungsi kekal entitas hidup yang kekal dalam jalinan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa yang kekal.... Kata agama dalam bahasa Inggris memiliki makna yang agak berbeda dengan sanatana-dharma. Agama menyatakan gagasan tentang keyakinan, dan keyakinan dapat berubah. Mungkin seseorang meyakini suatu proses tertentu, dan keyakinannya kemudian berubah untuk menjalani proses yang lain, tetapi yang dimaksud dengan sanatana-dharma adalah kegiatan yang tidak bisa berubah. (Bhagavad-gita Menurut Aslinya, hal. 18)

Para Vaisnava memandang bahwa kesadaran Krsna, atau sanatana-dharma, bersifat non-sektarian, walau mereka yang mempraktikkan sanatana-dharma bisa jadi mengaitkan diri mereka secara individu dengan tradisi keagamaan tertentu. Srila Prabhupada menulis, ‘Kami tidak menganjurkan suatu bentuk keagamaan yang bersifat sektarian. Yang menjadi perhatian kami adalah bagaimana membangkitkan cinta kita yang sedang terpendam kepada Tuhan. Kita menyambut metode mana pun yang membantu kita untuk mencapai tataran tersebut.’ 5

Dalam ulasan beliau atas kitab Upadesamrta karya Rupa Gosvami, Srila Prabhupada menjelaskan lebih lanjut: ‘Di seluruh bagian dunia, seberapa pun tertinggalnya masyarakat manusia di sana, ada suatu sistem keagamaan... Ketika sebuah sistem keagamaan berkembang dan beralih menjadi cinta kepada Tuhan, maka sistem keagamaan tersebut mencapai sukses.’ (Upadesamrta, hal. 44) 6

Karena itu, Vaisnavaisme mengakui keberadaan spiritualitas yang melekat pada diri semua entitas hidup beserta hubungan individu mereka dengan Tuhan Yang Maha Esa yang dikenal dengan banyak nama. Menurut Vaisnavaisme, kebahagiaan tiaptiap individu dapat mereka temukan dalam pelayanan kepada Yang Mahakuasa, dan ‘pelayanan suci yang dilakukan tersebut haruslah tanpa motif dan dilaksanakan secara berkesinambungan untuk dapat sepenuhnya memuaskan sang diri’ (SrimadBhagavatam 1.2.6). Tanpa pelayanan semacam itu, kebahagiaan akan kita cari di tempat lain dan kita pun akan menuhankan para dewa, tokoh-tokoh besar, fenomena alam, atau berhala, sesuai kecenderungan dan keadaan kita.

Tuhan senantiasa mengakui dan mempertahankan jalinan hubungan Diri-Nya dengan jiwa-jiwa individu dan memperhatikan upaya kita untuk mengetahui dan mengerti tentang Diri-Nya, meski kita melakukannya dengan cara yang tidak sempurna atau tidak selayaknya. Krsna meminta kepada jiwa-jiwa individu, ‘Tinggalkanlah segala jenis dharma dan hanya berserah diri kepada-Ku. Aku akan menyelamatkan engkau dari segala reaksi dosa. Jangan takut.’ (Bhagavad-gita 18.66). Karena itu, Krsna menekankan bahwa jalinan hubungan pribadi antara Diri-Nya dengan jiwa individu berkedudukan lebih tinggi daripada semata-mata klaim kelembagaan ataupun sektarian sebagai yang paling dekat dengan Diri-Nya.

Teologi Vaisnava dan Landasan Untuk Dialog

Caitanya Mahaprabhu mewariskan hanya delapan ayat tertulis, yang disebut Sri Siksastaka. Ayat yang ketiga berbunyi: ‘Barang siapa yang memosisikan dirinya lebih rendah daripada rumput, lebih toleransi daripada pohon, dan tidak berharap menerima penghormatan pribadi melainkan selalu siap menghormati semua orang, dapat dengan sangat mudah mengucapkan nama suci Tuhan senantiasa.’ (Lagu-Lagu Para Acarya Vaisnava, hal. 22–5)

Kita mengakui keberadaan spiritualitas yang melekat pada diri semua entitas hidup beserta hubungan individu mereka dengan Tuhan Yang Maha Esa

Ayat ini tidak menyisakan sedikit pun keraguan tentang standar kerendahan hati, sikap hormat dan pengabdian yang diharapkan hadir pada diri seorang Vaishnava yang berserah diri kepada Sri Krsna dengan hati yang murni. Frasa ‘menghormati semua orang” tentu saja dapat secara langsung diterapkan terhadap orangorang yang menganut keyakinan yang berbeda.

Merupakan kewajiban para penyembah Tuhan untuk bersikap hormat khususnya terhadap orang-orang yang tulus berusaha mencintai dan melayani Tuhan. Sikap hormat, toleransi dan kerendahan hati tersebut menjadi landasan bagi jenis hubungan yang benar bagi seorang Vaisnava.

Skanda Sebelas Srimad-Bhagavatam menguraikan tentang tiga tingkatan kemajuan dalam perkembangan hubungan spiritual: pemula (kanistha), matang (madhyama) dan maju (uttama). Bhagavatam menyajikan tahap-tahap perkembangan tersebut sebagai sebuah fenomena yang berlaku universal dan dapat diamati pada para penganut semua tradisi keagamaan. Seorang pemula umumnya memperlihatkan sikap fanatisme dan eksklusivisme. Seorang pemula tidak tahu bagaimana berperilaku di tengah-tengah komunitas penyembah. Ia belum mampu membedakan dengan benar antara penyembah dan bukan penyembah (Srimad-Bhagavatam 11.2.47, penjelasan) dan tidak efektif jika diajak berdialog, tanpa memandang dari tradisi mana ia berasal. Srila Prabhupada memberi peringatan, ‘tetapi jika orang itu adalah pengikut buta yang dogmatis, maka hindarilah berdiskusi dengannya.’ 7

Penyembah yang matang, yang sangat memberi perhatian pada jalinan hubungan yang benar, (Srimad-Bhagavatam, 11.2.46, penjelasan) dapat mengenali siapa yang merupakan penyembah Tuhan dengan melihat sifat-sifat dan gerak perasaan mereka; ia tidak menilai orang dari afiliasi agama mereka.8 Di mana pun sikap bhakti atau devosi terwujud, di sana ia mengenali keberadaan seorang penyembah Tuhan. Penyembah yang matang akan mengenali keberadaan bhakti kepada Tuhan dengan melihat adanya salah satu di antara sembilan proses bhakti yang digariskan oleh otoritas Vaisnava yang bernama Maharaja Prahlada.9 Srila Prabhupada menyatakan bahwa walaupun dua di antara sembilan proses tersebut yakni mendengarkan suara spiritual (sravanam) dan mengucapkan nama Tuhan (kirtanam), dianjurkan secara khusus sebagai metode latihan spiritual yang paling efektif untuk zaman saat ini, yang mana pun di antara sembilan proses lainnya tetap efektif untuk setiap zaman.

Setelah mencapai tingkatan matang, penglihatan yang diperlukan untuk terjalinnya hubungan yang tulus dan saling percaya dengan anggota komunitas keyakinan lain berkembang pada diri seorang penyembah.

Tingkatan keyakinan yang telah maju, atau tingkatan uttama, mengantarkan tercapainya keinsafan spiritual. Seorang penyembah yang telah maju melihat semua makhluk hidup sebagai pelayan-pelayan kekal Krsna dan ia memperlakukan mereka berdasarkan penglihatan tersebut. Ia tidak akan memiliki ketertarikan terhadap julukan-julukan sektarian seperti ras, jenis kelamin, ataupun agama dan ia meninggalkan segala pergaulan yang duniawi dan materialistik, mengalihkan pergaulannya kepada orang-orang yang mengabdikan diri dalam bhakti yang murni kepada Personalitas Tuhan Yang Maha Esa.

Vaisnavaisme mengakui bahwa kehidupan spiritual atau kehidupan kegamaan pada dasarnya adalah perihal hubungan pribadi dan indvidual antara jiwa individu yang kekal dengan Jiwa Tertinggi yang kekal. Walaupun seorang penyembah melakukan berbagai pelayanan yang barangkali dapat memuaskan Tuhan, keinsafan spiritual dan cinta kasih bhakti yang murni diberkati oleh Tuhan secara bebas sesuai kehendak-Nya Sendiri. Dengan demikian, penganut Vaisnavaisme menolak pemikiran bahwa kebenaran atau jalinan hubungan dengan Tuhan dapat dimonopoli oleh agama atau organisasi tententu. Para Vaisnava mengakui bahwa Krsna, Tuhan, bebas menjalin hubungan cinta kasih dengan siapa pun yang Dia inginkan, tanpa mempertimbangkan warna kulit, golongan atau keyakinan.

Navigasi buku

Share This:
Logo Perkumpulan ISKCON Indonesia

Ucapkan

Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare

Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare

Niscaya Anda Bahagia!

iskcon.org | gbc.iskcon.org | news.iskcon.org | communications.iskcon.org


Perkumpulan International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) di Indonesia 
Acarya-Pendiri His Divine Grace A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada


Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI: AHU-0001067.AH.01.08.2019 | NPWP: 74.572.204.1-903.000
Kementerian Agama RI: 1230/DJ.VI/BA.00/07/2019 | Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat: 413/Parisada P/IV/2016
Members of ISKCON Governing Body Commission (GBC) are listed as Extraordinary Members of the Association